decision fatigue
alasan otak kita mendadak lemot setelah seharian memilih
Pernahkah kita berdiri mematung di depan pintu kulkas yang terbuka selama lima menit penuh, menatap isinya dengan tatapan kosong? Atau mungkin, teman-teman pernah menghabiskan waktu lebih lama untuk scroll aplikasi pesan-antar makanan daripada waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan makanan itu sendiri? Di momen seperti itu, kita merasa luar biasa lelah. Otak rasanya seperti komputer usang yang mengalami lag parah, dan ujung-ujungnya, kita menyerah lalu memesan menu ayam goreng yang itu-itu saja. Saya rasa kita semua pernah berada di fase yang menyebalkan itu. Seringkali, kita menghakimi diri sendiri dan mengira ini sekadar rasa malas yang tak beralasan. Padahal, jika kita membedahnya lebih dalam, ada fenomena biologis dan psikologis yang sangat nyata sedang membajak sistem operasi di kepala kita.
Mari kita mundur sejenak dan melihat lintasan sejarah panjang manusia. Ribuan tahun yang lalu, nenek moyang kita di sabana tidak perlu pusing memilih antara empat puluh jenis merek pasta gigi di rak minimarket. Pilihan mereka setiap harinya cukup sederhana dan berbasis insting. Berburu hewan ini atau memetik buah itu? Lari dari predator atau bersembunyi? Sangat lugas. Namun hari ini, peradaban modern menuntut hal yang jauh berbeda. Berbagai penelitian psikologi menyebutkan bahwa rata-rata orang dewasa membuat sekitar 35.000 keputusan setiap harinya. Bayangkan itu. Mulai dari menekan tombol snooze di pagi hari, memilih padu padan baju, menyusun nada bicara saat membalas email dari atasan, hingga menentukan rute jalan pulang untuk menghindari kemacetan. Setiap pilihan kecil ini diam-diam menyedot energi. Otak kita, yang beratnya hanya sekitar dua persen dari total berat tubuh, nyatanya mengonsumsi hampir dua puluh persen kalori dan energi kita. Tapi, sebuah pertanyaan besar muncul. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tengkorak kita ketika energi tersebut perlahan mulai habis terkuras?
Untuk menjawab misteri tersebut, kita harus berkenalan dengan sosok "CEO" di dalam otak kita, yaitu sebuah area yang bernama prefrontal cortex. Bagian otak inilah yang bertugas mengatur logika kompleks, merencanakan masa depan, menjaga empati, dan menahan impuls liar kita. Masalahnya, sang CEO ini punya batasan jam kerja yang sangat ketat dan bergantung pada bahan bakar tertentu. Ada sebuah studi klasik yang sangat terkenal di dunia perilaku manusia. Para peneliti mengamati keputusan hakim-hakim di pengadilan yang bertugas mengabulkan atau menolak pembebasan bersyarat bagi narapidana. Temuan mereka sungguh di luar nalar. Jika sidang dilakukan pada pagi hari atau tepat setelah jam makan siang, peluang narapidana untuk bebas bersyarat bisa mencapai angka 65 persen. Namun, jika sidang dilakukan tepat sebelum jam istirahat makan siang, atau di sore hari saat pengadilan mau tutup? Peluang bebasnya anjlok drastis hingga mendekati angka nol persen. Pertanyaannya, apakah para hakim yang terhormat ini tiba-tiba menjadi kejam seiring berjalannya jarum jam? Atau, ada sebuah bahan bakar rahasia di dalam otak yang diam-diam menguap tanpa mereka sadari?
Jawabannya sama sekali bukan karena mereka menjadi jahat, teman-teman. Jawabannya adalah sebuah fenomena sains yang kita sebut sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Inilah kondisi neurobiologis di mana kualitas keputusan kita memburuk secara drastis setelah kita dihadapkan pada terlalu banyak pilihan. Saat prefrontal cortex kita terus-menerus diforsir untuk menimbang baik dan buruk sejak pagi hari, ia mengalami kelelahan yang nyata. Secara harfiah, otak mulai kehabisan glukosa, yang merupakan bahan bakar metabolik utamanya. Ketika tangki bensin ini berkedip merah, otak kita menolak untuk bekerja keras dan secara otomatis akan memilih salah satu dari dua jalan pintas darurat. Jalan pintas pertama adalah bertindak sembrono dan impulsif. Inilah alasan ilmiah mengapa kita tiba-tiba check out keranjang belanja online di tengah malam untuk barang yang tidak kita butuhkan. Otak sudah tidak punya sisa energi untuk menginjak rem. Jalan pintas kedua adalah tidak melakukan apa-apa sama sekali, alias menghindar dari keputusan. Kembali ke studi para hakim tadi, menolak pembebasan bersyarat adalah pilihan paling aman yang tidak membutuhkan analisis risiko. Persis seperti kita yang akhirnya berujung makan mi instan lagi di malam hari, murni karena otak menolak memproses informasi menu baru.
Memahami sains di balik cara kerja otak ini membuat saya menyadari satu hal yang sangat melegakan. Kelelahan mental dan kebingungan kita di penghujung hari bukanlah sebuah tanda kelemahan karakter. Ini sekadar biologi dasar. Kita tidak malas, kita hanya kehabisan baterai. Lalu, bagaimana cara kita mengakali kelemahan evolusioner ini? Jawabannya adalah dengan menciptakan rutinitas dan sistem otomatis. Pernahkah teman-teman memperhatikan mengapa mendiang Steve Jobs selalu memakai turtleneck hitam legam? Atau mengapa Barack Obama pernah bercerita bahwa ia hanya membatasi dirinya untuk memakai jas abu-abu atau biru? Tokoh-tokoh ini secara sadar menyingkirkan keputusan-keputusan kecil dan trivial di pagi hari agar baterai otak mereka tetap utuh. Mereka menyimpannya untuk keputusan besar yang benar-benar punya dampak. Kita pun bisa mulai menirunya dari sekarang. Buatlah menu sarapan yang sama setiap hari kerja. Jadwalkan pakaian apa yang akan dipakai untuk seminggu ke depan pada hari Minggu sore. Otomatisasi hal-hal kecil dalam hidup kita. Jangan biarkan energi berharga dari sang CEO di otak kita habis hanya untuk memilih tontonan di layar televisi. Mari simpan sisa bahan bakar kita untuk keputusan yang benar-benar bermakna, atau setidaknya, agar malam ini kita tidak lagi berdiri mematung kebingungan di depan kulkas.